syetan Punya Tanduk | jin Bisa Melakukan Penyerupaan | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami
Bab I: jin, hakekat bukan khurafat.
syetan Punya Tanduk.
Dari Amer bin Anbasah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
'Sesungguhnya matahari terbit di antara dua tanduk syetan dan terbenam di antara dua tanduk syetan.'" (19)
jin Bisa Melakukan Penyerupaan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menugasi aku untuk menjaga (harta) zakat Ramadhan, kemudian datanglah makhluk pendatang kepadaku lalu mengais makanan sehingga aku mengambilnya dan kukatakan, 'Demi Allah, akan kubawa engkau kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.' Makhluk itu berkata, 'Sesungguhnya aku membutuhkan, aku punya tanggungan keluarga dan punya kebutuhan yang mendesak.'" Abu Hurairah berkata, "Lalu kulepaskan dia. Keesokan harinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?'" Abu Hurairah berkata, "Aku jawab, 'Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhan yang mendesak dan tanggungan keluarga lalu aku kasihani dia dan kulepaskan pergi.' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Dia membohongi engkau, dia akan kembali lagi.' Kemudian aku tahu bahwa dia akan kembali lagi karena pernyataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut. Lalu aku mengintainya dan dia pun datang mengais makanan lagi, lalu kuambil dia dan kukatakan, 'Sungguh akan kubawa engkau kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.' Dia berkata, 'Biarkanlah aku, sesungguhnya aku sangat memerlukan dan aku punya tanggungan keluarga, aku tidak akan kembali.' Lalu kukasihani dia dan kubiarkan pergi. Keesokan harinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?' Aku jawab, 'Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhan yang mendesak dan tanggungan keluarga lalu kukasihani dia dan kulepaskan pergi.' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Dia membohongi engkau, dia akan kembali lagi.' Kemudian aku mengintainya untuk ketiga kalinya, sehingga dia datang mengais makanan lalu kuambil dia dan kukatakan, 'Sungguh akan kubawa engkau kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ini adalah untuk ketiga dan terakhir kalinya engkau berjanji tidak kembali kemudian ternyata engkau kembali lagi.' Dia (makhluk pendatang itu) berkata, 'Biarlah kuajarkan kepadamu beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadamu.' Kukatakan, 'Apa itu?' Dia berkata, 'Apabila kamu pergi ke tempat tidurmu, bacalah ayat kursi "Allaahu laa ilaaha illaa huwal Hayyul Qayyum..." hingga akhir ayat, karena dengan demikian, engkau akan dilindungi oleh Allah dan syetan tidak akan mendekat kepadamu hingga pagi.' Kemudian kubiarkan dia pergi. Keesokan harinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda lagi, 'Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?' Aku jawab, 'Wahai Rasulullah, dia mengaku mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadaku, lalu kubiarkan dia pergi.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Apa itu?' Aku jawab, 'Dia berkata kepadaku, apabila engkau pergi ke tempat tidurmu bacalah ayat kursi dari awal hingga akhir ayat. Dia berkata kepadaku, "Allah akan senantiasa melindungi engkau dan syetan tidak akan mendekatimu hingga pagi" -mereka paling menginginkan kebaikan- lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tahukah siapakah orang yang engkau ajak bicara sejak tiga hari itu, wahai Abu Hurairah?' Abu Hurairah menjawab, 'Tidak.' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Itu adalah syetan.'" (Diriwayatkan oleh al-Bukhari) (20)
Al-Hafizh berkata, "Di dalam hadits Abu Ubay bin Ka'ab riwayat an-Nasa-i disebutkan, 'Bahwasanya dia mempunyai tempat pengeringan yang sedang dipakai mengeringkan kurma dan dijaganya, kemudian didapatinya bahwa kurma tersebut berkurang. Lalu tiba-tiba ada seekor binatang sebesar anak yang baru akil baligh.
Kukatakan kepadanya, 'Apakah engkau makhluk jin atau manusia?' Dia menjawab, 'jin.' Dalam riwayat ini jin tersebut juga mengatakan, 'Kami mendengar bahwa engkau suka bersedekah dan karena itu kami ingin mendapatkan bagian makananmu.' Ia (Shahabat tersebut) bertanya, 'Apakah yang dapat melindungi kami dari (gangguan) kalian?' jin itu menjawab, 'Ayat kursi ini.' Kemudian ia menyebutkan hal ini kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'jin itu benar.'"
Selanjutnya al-Hafizh menjadikan hadits Abu Sa'id terdahulu sebagai dalil bahwa syetan bisa menyerupai bentuk dan bisa dilihat. Sedangkan firman Allah, "Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka." (QS. Al-A'raf: 27), adalah khusus bagi syetan dalam bentuk aslinya.
Di tempat lain al-Hafizh berkata, "Al-Baihaqi meriwayatkan di dalam Manaqibusy Syafi'i dengan sanadnya dari ar-Rabi', aku mendengar Syafi'i berkata, 'Barangsiapa mengaku melihat jin maka kami batalkan syahadatnya kecuali Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam).'"
Ia berkata, "Ini berlaku bagi orang yang mengaku melihat mereka dalam bentuknya yang asli. Sedangkan orang yang mengaku melihat sesuatu dari mereka setelah menyerupai beberapa bentuk binatang maka tidak dapat dibantah karena berita-berita tentang penyerupaan mereka sudah mutawatir (banyak)." (21)
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Ular adalah jadian jin sebagaimana kera dan babi adalah jadian dari Bani Israil." (22)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Di atas setiap unta ada syetan maka hinakanlah dengan menungganginya." (23)
Dari Abu Qilabah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,
"Sekiranya anjing itu bukan satu ummat niscaya aku memerintahkan pembunuhannya tetapi aku takut memusnahkan satu ummat, karena itu bunuhlah setiap binatang hitam di antaranya sebab dia adalah jinnya atau dari jinnya." (24)
Di dalam Shahih Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
'Apabila salah seorang di antara kalian berdiri shalat maka (hendaklah) dia membatasinya dengan sutrah (pembatas) jika dihadapannya ada seperti ekor binatang, jika tidak ada dihadapannya seperti ekor binatang maka sesungguhnya shalatnya bisa batal karena keledai, wanita dan anjing hitam.'" Aku bertanya, "Wahai Abu Dzar, mengapakah anjing hitam dibedakan dari anjing merah atau anjing kuning segala?" Ia menjawab, "Wahai anak saudaraku, aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana kamu bertanya kepadaku lalu beliau bersabda, 'Anjing hitam adalah syetan.'" (25)
Yang menjadi catatan dari hadits ini adalah sabar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa anjing hitam adalah syetan.
Ibnu Taimiyah berkata, "Anjing hitam adalah syetan anjing dan jin, dia menyerupai warna beberapa bentuk, demikian pula dengan bentuk kucing hitam karena warna hitam lebih bisa menghimpun kekuatan-kekuatan syetan daripada warna lainnya, disamping karena warna hitam menyimpan daya panas." (26)
iblis pernah menyerupai Suraqah bin Malik, pemimpin Bani Mudlij, pada waktu perang Badr. Ia datang bersama kaum musyrikin dengan membawa tentaranya seraya berkata kepada kaum musyrikin, "Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan kalian pada hari ini, dan sesungguhnya aku adalah pembela kalian." Ketika pasukan telah berbaris dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun mengambil segenggam tanah lalu dilemparkan ke arah wajah kaum musyrikin maka mereka pun lari mundur terbirit-birit, dan Jibril 'alaihis salaam datang kepada iblis. Ketika melihat Jibril, iblis spontan melepaskan tangannya yang tengah menggandeng tangan seorang dari kaum musyrikin kemudian dia dan pasukannya lari meninggalkan medan pertempuran, sehingga ada salah seorang yang berkata, "Wahai Suraqah, tidakkah engkau mengatakan akan menjadi pembela kami." Lalu dijawabnya, "Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat, sesungguhnya aku takut kepada Allah, dan Allah Maha Keras siksa-Nya." Demikianlah ketika dia (iblis) melihat Malaikat. Riwayat ini dikemukakan oleh Ibnu 'Abbas (radhiyallahu 'anhuma). (27)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Jin bisa menyerupai bentuk manusia dan binatang, seperti ular, kalajengking, unta, sapi, kambing, kuda, bighal, keledai, burung dan anak keturunan Adam." (28)
===
(19) Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitabu Bid'il Khalqi bab 11, dan Muslim, Kitabul Mufasirin hadits 2, 90 dan 254.
(20) Diriwayatkan oleh al-Bukhari, 4/487, 6/335, dan 9/55 (Fat-hul Bari).
(21) Fat-hul Bari 4/489.
(22) Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, ath-Thabrani di dalam al-Kabir dan Ibnu Abi Hatim di dalam al-'Ilal. Dishahihkan oleh al-Hakim di dalam ash-Shahihah, 4/439 nomor 1824.
(23) Diriwayatkan oleh al-Hakim dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami', 4/38.
(24) Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitabul Musaqat.
(25) Diriwayatkan oleh Muslim, 4/226 (an-Nawawi), an-Nasa-i, 2/64, Ibnu Majah, 1/306, dan ad-Darami, 1/329.
(26) Risalatul jinni, hal. 41.
(27) Tafsir Ibni Katsir, 2/317.
(28) Risalatul jinni, hal. 32.
===
Maraji'/ sumber: https://baitulkahfitangerang.blogspot.com
syetan Punya Tanduk.
Dari Amer bin Anbasah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
'Sesungguhnya matahari terbit di antara dua tanduk syetan dan terbenam di antara dua tanduk syetan.'" (19)
jin Bisa Melakukan Penyerupaan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menugasi aku untuk menjaga (harta) zakat Ramadhan, kemudian datanglah makhluk pendatang kepadaku lalu mengais makanan sehingga aku mengambilnya dan kukatakan, 'Demi Allah, akan kubawa engkau kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.' Makhluk itu berkata, 'Sesungguhnya aku membutuhkan, aku punya tanggungan keluarga dan punya kebutuhan yang mendesak.'" Abu Hurairah berkata, "Lalu kulepaskan dia. Keesokan harinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?'" Abu Hurairah berkata, "Aku jawab, 'Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhan yang mendesak dan tanggungan keluarga lalu aku kasihani dia dan kulepaskan pergi.' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Dia membohongi engkau, dia akan kembali lagi.' Kemudian aku tahu bahwa dia akan kembali lagi karena pernyataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut. Lalu aku mengintainya dan dia pun datang mengais makanan lagi, lalu kuambil dia dan kukatakan, 'Sungguh akan kubawa engkau kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.' Dia berkata, 'Biarkanlah aku, sesungguhnya aku sangat memerlukan dan aku punya tanggungan keluarga, aku tidak akan kembali.' Lalu kukasihani dia dan kubiarkan pergi. Keesokan harinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?' Aku jawab, 'Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhan yang mendesak dan tanggungan keluarga lalu kukasihani dia dan kulepaskan pergi.' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Dia membohongi engkau, dia akan kembali lagi.' Kemudian aku mengintainya untuk ketiga kalinya, sehingga dia datang mengais makanan lalu kuambil dia dan kukatakan, 'Sungguh akan kubawa engkau kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ini adalah untuk ketiga dan terakhir kalinya engkau berjanji tidak kembali kemudian ternyata engkau kembali lagi.' Dia (makhluk pendatang itu) berkata, 'Biarlah kuajarkan kepadamu beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadamu.' Kukatakan, 'Apa itu?' Dia berkata, 'Apabila kamu pergi ke tempat tidurmu, bacalah ayat kursi "Allaahu laa ilaaha illaa huwal Hayyul Qayyum..." hingga akhir ayat, karena dengan demikian, engkau akan dilindungi oleh Allah dan syetan tidak akan mendekat kepadamu hingga pagi.' Kemudian kubiarkan dia pergi. Keesokan harinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda lagi, 'Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?' Aku jawab, 'Wahai Rasulullah, dia mengaku mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadaku, lalu kubiarkan dia pergi.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Apa itu?' Aku jawab, 'Dia berkata kepadaku, apabila engkau pergi ke tempat tidurmu bacalah ayat kursi dari awal hingga akhir ayat. Dia berkata kepadaku, "Allah akan senantiasa melindungi engkau dan syetan tidak akan mendekatimu hingga pagi" -mereka paling menginginkan kebaikan- lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tahukah siapakah orang yang engkau ajak bicara sejak tiga hari itu, wahai Abu Hurairah?' Abu Hurairah menjawab, 'Tidak.' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Itu adalah syetan.'" (Diriwayatkan oleh al-Bukhari) (20)
Al-Hafizh berkata, "Di dalam hadits Abu Ubay bin Ka'ab riwayat an-Nasa-i disebutkan, 'Bahwasanya dia mempunyai tempat pengeringan yang sedang dipakai mengeringkan kurma dan dijaganya, kemudian didapatinya bahwa kurma tersebut berkurang. Lalu tiba-tiba ada seekor binatang sebesar anak yang baru akil baligh.
Kukatakan kepadanya, 'Apakah engkau makhluk jin atau manusia?' Dia menjawab, 'jin.' Dalam riwayat ini jin tersebut juga mengatakan, 'Kami mendengar bahwa engkau suka bersedekah dan karena itu kami ingin mendapatkan bagian makananmu.' Ia (Shahabat tersebut) bertanya, 'Apakah yang dapat melindungi kami dari (gangguan) kalian?' jin itu menjawab, 'Ayat kursi ini.' Kemudian ia menyebutkan hal ini kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'jin itu benar.'"
Selanjutnya al-Hafizh menjadikan hadits Abu Sa'id terdahulu sebagai dalil bahwa syetan bisa menyerupai bentuk dan bisa dilihat. Sedangkan firman Allah, "Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka." (QS. Al-A'raf: 27), adalah khusus bagi syetan dalam bentuk aslinya.
Di tempat lain al-Hafizh berkata, "Al-Baihaqi meriwayatkan di dalam Manaqibusy Syafi'i dengan sanadnya dari ar-Rabi', aku mendengar Syafi'i berkata, 'Barangsiapa mengaku melihat jin maka kami batalkan syahadatnya kecuali Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam).'"
Ia berkata, "Ini berlaku bagi orang yang mengaku melihat mereka dalam bentuknya yang asli. Sedangkan orang yang mengaku melihat sesuatu dari mereka setelah menyerupai beberapa bentuk binatang maka tidak dapat dibantah karena berita-berita tentang penyerupaan mereka sudah mutawatir (banyak)." (21)
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Ular adalah jadian jin sebagaimana kera dan babi adalah jadian dari Bani Israil." (22)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Di atas setiap unta ada syetan maka hinakanlah dengan menungganginya." (23)
Dari Abu Qilabah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,
"Sekiranya anjing itu bukan satu ummat niscaya aku memerintahkan pembunuhannya tetapi aku takut memusnahkan satu ummat, karena itu bunuhlah setiap binatang hitam di antaranya sebab dia adalah jinnya atau dari jinnya." (24)
Di dalam Shahih Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
'Apabila salah seorang di antara kalian berdiri shalat maka (hendaklah) dia membatasinya dengan sutrah (pembatas) jika dihadapannya ada seperti ekor binatang, jika tidak ada dihadapannya seperti ekor binatang maka sesungguhnya shalatnya bisa batal karena keledai, wanita dan anjing hitam.'" Aku bertanya, "Wahai Abu Dzar, mengapakah anjing hitam dibedakan dari anjing merah atau anjing kuning segala?" Ia menjawab, "Wahai anak saudaraku, aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana kamu bertanya kepadaku lalu beliau bersabda, 'Anjing hitam adalah syetan.'" (25)
Yang menjadi catatan dari hadits ini adalah sabar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa anjing hitam adalah syetan.
Ibnu Taimiyah berkata, "Anjing hitam adalah syetan anjing dan jin, dia menyerupai warna beberapa bentuk, demikian pula dengan bentuk kucing hitam karena warna hitam lebih bisa menghimpun kekuatan-kekuatan syetan daripada warna lainnya, disamping karena warna hitam menyimpan daya panas." (26)
iblis pernah menyerupai Suraqah bin Malik, pemimpin Bani Mudlij, pada waktu perang Badr. Ia datang bersama kaum musyrikin dengan membawa tentaranya seraya berkata kepada kaum musyrikin, "Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan kalian pada hari ini, dan sesungguhnya aku adalah pembela kalian." Ketika pasukan telah berbaris dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun mengambil segenggam tanah lalu dilemparkan ke arah wajah kaum musyrikin maka mereka pun lari mundur terbirit-birit, dan Jibril 'alaihis salaam datang kepada iblis. Ketika melihat Jibril, iblis spontan melepaskan tangannya yang tengah menggandeng tangan seorang dari kaum musyrikin kemudian dia dan pasukannya lari meninggalkan medan pertempuran, sehingga ada salah seorang yang berkata, "Wahai Suraqah, tidakkah engkau mengatakan akan menjadi pembela kami." Lalu dijawabnya, "Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat, sesungguhnya aku takut kepada Allah, dan Allah Maha Keras siksa-Nya." Demikianlah ketika dia (iblis) melihat Malaikat. Riwayat ini dikemukakan oleh Ibnu 'Abbas (radhiyallahu 'anhuma). (27)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Jin bisa menyerupai bentuk manusia dan binatang, seperti ular, kalajengking, unta, sapi, kambing, kuda, bighal, keledai, burung dan anak keturunan Adam." (28)
===
(19) Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitabu Bid'il Khalqi bab 11, dan Muslim, Kitabul Mufasirin hadits 2, 90 dan 254.
(20) Diriwayatkan oleh al-Bukhari, 4/487, 6/335, dan 9/55 (Fat-hul Bari).
(21) Fat-hul Bari 4/489.
(22) Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, ath-Thabrani di dalam al-Kabir dan Ibnu Abi Hatim di dalam al-'Ilal. Dishahihkan oleh al-Hakim di dalam ash-Shahihah, 4/439 nomor 1824.
(23) Diriwayatkan oleh al-Hakim dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami', 4/38.
(24) Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitabul Musaqat.
(25) Diriwayatkan oleh Muslim, 4/226 (an-Nawawi), an-Nasa-i, 2/64, Ibnu Majah, 1/306, dan ad-Darami, 1/329.
(26) Risalatul jinni, hal. 41.
(27) Tafsir Ibni Katsir, 2/317.
(28) Risalatul jinni, hal. 32.
===
Maraji'/ sumber: https://baitulkahfitangerang.blogspot.com